Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (III), Benarkah Putin Reinkarnasi Ivan ‘Ceulaka’ the Teribble?

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

SEKALIPUN Uni Soviet dilahirkan dengan Revolusi Bolshevik dengan membunuh Nicholas II, Tsar Rusia dari dinasti Romanov pada tahun 1917, warisan imperial Rusia tetap dipertahankan.

Pada tahun 1922, atas kesepakatan Rusia, Ukraina, Belarus, Georgia, Armenia, dan Azerbaijan membentuk federasi baru, yang bernama Uni Soviet.

Sejarah mencatat, dalam perjalanannya, Uni Soviet pernah memiliki 15 negara bagian yang terletak di benua Eropa dan Asia.

Pemimpin pertamanya adalah tokoh utama Revolusi Bolshevik, pimpinan partai Komunis, Vladimir Lenin.

Walaupun Lenin dan seluruh jajarannya sangat membenci rezim Tsar, namun ia dan para penggantinya tetap saja menggunakan peta imperial kerajaan Rusia sebagai basis negara Uni Soviet.

Peta itu adalah sebuah negara terluas di dunia, tak tertandingi oleh negara manapun.

Negara ini terbentang mulai dari kawasan Baltik Eropa di Timur sampai ke Pantai Siberia yang berbatasan dengan Samudera Pasifik.

Sebagian besar Asia Utara adalah wilayah Uni Soviet, termasuk sebagaian Asia Tengah.

Lenin dan pengikutnya mengecam keras imperialisme.

Namun Uni Soviet yang dibangun atas dasar wilayah Tsar itu, di bawah Partai Komunis, adalah sebuah imperium yang setara dengan imperium Tsar.

Secara geografis, perilaku, dan praktek menjaga keutuhan wilayah yang dilakukan Partai Komunis  tetap saja serupa, walaupun  tak sangat  sama dengan apa yang dilakukan oleh para tsar generasi Romanov selama ratusan tahun.

Ketika Presiden Boris Yeltsin yang fisiknya sangat rapuh saat berkuasa, melihat seorang anak muda yang sangat dinamis, dengan latar belakang perwira muda KGB, ia segera tertarik.

Tidak ada cerita panjang ketika Yeltsin memilih Putin untuk sebuah pekerjaan besar negeri itu, yakni sebagai pimpinan FSB-badan rahasia pengganti KGB pada tahun 1998.

Walaupun Yeltsin dipastikan tahu banyak tentang Putin, berbagai pihak menyebutkan seolah Yeltsin tidak mengenal lebih dalam tentang Putin.

Seperti ditulis dalam buku Fragile Empire (Judah 2012) informasi yang hanya diketahui oleh Yeltsin tentang Putin, selain perwira muda komunis KGB yang handal, ia adalah pembantu setia sekaligus pekerja keras untuk Wali Kota St. Petersburg, Anatoly Sobchak pada awal tahun 90an.

Peran Yeltsin dalam Karir Putin

Yeltsin merasa pilihannya untuk Putin tidak salah, karena disamping patuh dan setia, ia dipandang sangat cakap.

Hanya setahun menjadi memimpin FSB, ia ditunjuk menjadi Perdana Menteri Rusia, sebuah jabatan tertinggi Rusia setelah Presiden.

Catatan menyebutkan, Putin adalah Perdana Menteri kelima dalam masa dua tahun yang gonta-ganti ditunjuk oleh Yeltsin.

Putin tak butuh waktu lama untuk diakui.

Segera setelah ia menjadi Perdana Menteri, terjadi serangan bom apartemen di sejumlah kota- Moskow, Buynaksk, dan Volgodonsk yang menewaskan antara 200-300 jiwa.

Banyak kalangan menduga teror yang dikaitkan dengan pemberontak Chechnya di Kaukasus itu adalah strategi kontra intilejen Putin melalui FSB sebagai pintu masuk selanjutnya untuk menjadi orang nomor satu Rusia (Dunlop 2001).

Ketika ia ditunjuk Perdana Menteri oleh Yeltsin, rakyat Rusia sudah sangat muak dengan kelemahan dan kerapuhan Yeltsin.

Ia tidak mampu menyelesaikan pemberontakan Chechnya, ia lemah terhadap barat, dan mabuk 24 jam dengan alkohol.

Selanjutnya Yeltsin juga tak berdaya menghadapi Oligharki baru Rusia yang dengan tangannya sendiri melahirkannya dan membesarkannya.

Survei menyebutkan tingkat penerimaan publik terhadap kinerja pemerintahan Yeltsin pada saat itu pada angka 3 persen.

Putin tahu benar perasaan publik Rusia yang putus asa, dan apa langkah selanjutnya yang mesti ia kerjakan. 

Ia memberikan reaksi yang paling keras terhadap Chechnya.

Putin mengerahkan pemboman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pemeberontakan itu.

Ibu kota Chechnya, Grozny, hancur rata dengan tanah, dan puluhan ribu rakyat  kota itu- muslim, menemui ajalnya.

Terhadap aksinya Putin memberitahu rakyat Rusia, bahwa ia telah mengerjakan tugasnya sesuai dengan apa yang harus dikerjakannya.

Ia segera menjadi “bintang baru” rakyat Rusia.

Ia muda, tegas, macho, berani, berbicara seperlunya, dan tahu apa yang mesti ia kerjakan.

Rakyat Rusia yang nyaris putus asa melihat kelumpuhan pemerintahan Yieltsin.

Dalam keaadan sekarat yang pada awalnya Yetlsin membuat keputusan penting.

Ia yang sebelumnya sering menyebut Putin sebagai calon pembantunya, setelah serangan Grozny ia lakukan apa yang dia ucapkan.

Yeltsin mengundurkan diri, dan sesuai dengan ketentuan konstitusi Rusia ia berhak menujuk presiden sementara menunggu dilaksanakannya Pemilu.

Ia mempercayakan Putin untuk itu.

Dalam masa setahun pemerintahannya, Putin menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang tahu menjaga Rusia.

Ia melindungi dan membebaskan Yeltsin dari skandal mega korupsi dengan “segala cara”.

Ia melanjutkan kebijakan kekerasan tak kenal ampun kepada pemberontak Chechnya, dan Putin juga mulai membatasi dan mengontrol para oligharki baru Rusia.

Sikap Putin membuat sebagian rakyat Rusia yang rindu dengan ketegasan pemimpin dan keutuhan Rusia mulai menaruh harapan pada Putin.

Pilihan Putin untuk melindungi Yeltsin dari tuduhan korupsi adalah sebuah resep yang dapat dimaafkan oleh sebagian rakyat Rusia, yang melihat ada tantangan besar lain negara yang mesti diselesaikan, termasuk menjaga stabilitas.

Sambutan Hangat dari AS dan Inggris

Putin memenangkan pemilihan Presiden Rusia pada tahun 2000 dengan angka 53 persen, mengalahkan Gennady Zyuganov, calon dari Partai Komunis Rusia.

Kini hamparan kekuasaan terbentang luas di hadapan Putin.

Ia kini tahu saraf dan otot kekuasaan yang kemudian akan membuatnya mampu “mengurus” Rusia selama 20 tahun lebih sampai dengan hari ini. 

Putin kini tahu ketika sampai pada kepentingan nasional negara, nilai dan pilihan strategis dapat mengalahkan nilai-nilai moral.

Itu terbukti ketika ia membumihanguskan Grozny, ibu kota Chechnya, dan membantai puluhan ribu muslim Chechnya, AS dan sekutunya tidak begitu peduli.

Karena pejuang kemerdekaan Chechnya sama di mata mereka, yakni teroris Islam radikal yang sangat berbahaya.

Dalam beberapa kesempatan awal, Bill Clinton, presiden AS, dan Tony Blair menunjukkan sikap hangat dan bersahabat dengan Putin.

Kunjungan luar negeri pertama Putin ke London mendapat sambutan hangat dari Tony Blair.

Ketika wartawan mempersoalkan tentang pelanggaran HAM Rusia di Chechnya kepada Blair di hadapan Putin, Blair menjawab ringan “nanti akan dicari dan dibicarakan.” 

Sikap awal Putin justru mampu memperdayakan Madeline Abraight, Menlu AS cerdas dan keras, seperti catatan Human Rights Watch (2007).

Ketika Albraight pertama sekali bertemu Presiden Putin pada awal Februari 2000, di Moskow ia memuji dan menaruh harapan kepada pemimpin baru Rusia itu.

Ia membicarakan dan tidak mempersoalkan tentang pemboman ibu kota Grozny Chechnya yang saat itu sedang mendapat pemboman paling keras, berikut dengan pelanggaran HAM berat oleh tentara Rusia.

Ketika wartawan bertanya lebih jauh, ia merespons bahwa ia dapat merasakan arti kebijakan Putin untuk masa depan negara Rusia.

Putin pun semakin tahu bagaimana “isi dalam” AS dan sekutunya ketika sampai pada kepentingan nasional negaranya masing-masing.

Sebagaimana hampir seluruh pendahulunya yang melihat eksistensi Rusia sebagaimana peta imperium para Tsar dinasti Romanov, begitu juga Putin.

Idealnya, Rusia baginya, baik secara kekuasaan, paling kurang secara pengaruh, adalah seluruh wilayah yang berada di bawah bekas Federasi Uni Soviet, dan untuk ia akan melakukan apa yang harus dilakukan.

Ivan Ceulaka

Banyak tulisan sinis yang menyamakan Putin dengan Tsar Rusia, Ivan the Teribble atau Ivan yang mengerikan, kalau dalam bahasa Aceh disebut Ivan Ceulaka, dalam menangani Rusia.

Ivan IV Vasilyevich adalah Tsar pertama Rusia pada tahun 1547 yang terkenal cerdas, kejam, dan brutal.

Ivan tak segan memberikan musuhnya kepada anjing pemburu untuk disantap.

Ia juga gemar merebus dan memanggang di atas api sampai mati pembantunya yang terbukti berkhianat.

Di sebalik itu, Ivan, pada abad ke pertengahan abad 16, adalah peletak dasar ekspansi kerajaan Rusia.

Ia melipatduakan luas imperium dengan perang dan kekerasan itu terbentang dari Sungai Volga di Timur Eropah, sampai ke Vladivostok di barat, di tepi Samudra Pasifik di Asia.

Putin tentu saja bukan Ivan the Terrible, tetapi ada inspirasi yang diberikan oleh Ivan kepada Putin tentang bagaimana mengurus Rusia dengan “cara Rusia”, termasuk ketika menghadapi ancaman luar negeri.

Ia tak segan mengeksekusi musuhnya dengan berbagai cara, penangkapan, penjara, penembakan misterius, dan bahkan penggunaan racun radio aktif.

Pada tahun 2010 Wali Kota Oryol, yang terletak 350 kilometer dari Moskow membangun monumen Ivan the Terrible untuk menghormati jasa Tsar pertama itu.

Monument itu mendapat dukungan sekaligus kecaman dari public.

Ketika persesmian itu dilakukan, gubernur provinsi Oryol Oblas, Vadim Potomsky, sekutu dekat Putin, menyebutkan jasa besar Ivan kepada Rusia, baik keamanan dan kesolidan dalam negeri maupun penghormatan luar negeri.

Ia mensejajarkan  pengakuan dunia kepada Ivan dahulu, dan ketangguhan Putin mendapatkan pengakuan internasional hari ini.

Putin maupun kantor Presiden Rusia tidak memberikan komentar pada waktu itu.(BERSAMBUNG)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2022/03/07/putin-ukraina-dan-perang-dunia-3-iii-benarkah-putin-reinkarnasi-ivan-ceulaka-the-teribble?page=4.