Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (I): Denazifikasi dan Demiliterisasi Ukraina

Ada dua kawasan di Georgia yang melawan pemerintah Tbilisi-ibukota Georgia, yakni Osseitia Selatan, dan Abkhazia.

Ketegangan itu telah berlangsung lama, bahkan segera setelah rontoknya Uni Soviet pada tahun 1991.

Banyak pengamat barat  menggambarkan cara invasi Putin baik invasi Crimea- yang juga bagian dari Ukraina pada tahun 2014, maupun serangan kali ini, adalah tetap dengan menggunakan “buku panduan” Georgia.

Sebagai perbandingannya, model invasi itu oleh sebagian pengamat dianalogikan dengan alasan invasi AS ke Afghanistan dan Irak dengan tema Islam radikal.

Ketika aneksasi Crimea dilakukan oleh Rusia pada Februari 2014, alasan yang disampaikan Putin juga relatif sama.

Ia menyebukan tugas sucinya adalah memberikan kebebasan kepada rakyat Crimea untuk menentukan pilihannya, yakni pilihan untuk bergabung dengan Rusia.

Memang, sekalipun Crimea adalah kawasan yang diakui oleh dunia internasional sebagai bagian dari Ukraina, namun mayoritas penduduknya adalah berbahasa Rusia.

Walaupun sampai hari ini penggabungan Crimea ke dalam Rusia, tidak diakui masyarakat internasional, kondisi Crimea tetap saja stabil, tanpa perlawanan.

Apa yang dilakukan di Donetsk dan Luhansk Ukraina hari ini, telah pernah dilakukan di Osseitia Selatan, dan Abkhazia, Georgia.

Bedanya hanya kemerdekaan Osseitia Selatan, dan Abkhazia diakui oleh Rusia setelah invasi dilakukan, sementara kejadian di dua kawasan Donetsk dan Luhansk, Ukraina timur dimulai dengan pengakuan kemerdekaannya sebelum invasi dimulai.

Putin menyebutkan invasi Rusia ke Georgia pada masa itu sebagai perwujudan tanggung jawab kemanusian internasional untuk menghindari “genosida” rezim Tbilisi terhadap warga Ossetia Selatan dan Abkhazia.

Ini adalah alasan yang kali ini digunakan lagi sebagai justifikasi serangan terhadap Ukraina dan pembebasan dua “republik baru” di Ukraina Timur, Donetsk dan Luhansk.

Di Georgia, sebelum invasi dimulai Rusia membuka perbatasannya untuk dilintasi oleh ribuan, mungkin puluhan ribu pengungsi.

Pada minggu pertama bulan Agustus 2008, Rusia menginvasi Georgia melalui dua kawasan itu dengan 40.000 tentara, bersama dengan 1,200 tank.

Hanya dalam tempo lima hari pasukan Rusia berhasil mengamankan kedua wilayah itu.

Saat itu pasukan Rusia hanya berjarak sekitar 60 kilometer dari Ibu Kota Georgia, Tbilisi.

Setelah Perang 2008, berikut dengan pendudukan kedua wilayah itu oleh pasukan Rusia, segera Rusia mengakui kemerdekaan Republik Ossetia Selatan, dan Abkhazia.

Walaupun klaim itu ditentang oleh hampir semua anggota PBB, 4 negara sekutu Rusia mengakui kemerdekaan dua republik baru itu yakni, Venezuela, Syiria, Nicaragua, dan Nauru.

Walaupun AS dan sekutunya membuat protes keras atas langkah Rusia, Putin tak peduli.

Ia bahkan melanjutkan Rusia membangun basis militernya di kedua negara baru itu.

Tak cukup dengan itu, kesepakatan baru antara Rusia dan negara baru itu dilanjutkan.

Kesepakatan itu tidak lain, tidak bukan yakni “integrasi” Ossetia Selatan dan Abkhazia dengan Rusia dalam bidang militer dan ekonomi.

Praktis kedua negara baru itu menjadi bagian dari Rusia Raya Putin.

Sampai hari ini kedua wilayah itu oleh masyarakat internasional masih dianggap sebagai bagian dari wilayah Georgia yang sah, dan ditetapkan sebagai wilayah pendudukan asing.

Hari ini, dengan semakin gencarnya serangan Rusia, praktis ke hampir semua wilayah Ukraina menimbulkan berbagai spekulasi.

Apakah Rusia akan sangat gampang menaklukkan dan menduduki Ukraina?

Apakah cukup dengan menghabisi rezim Zeleinsky, lalu membentuk rezim Ukraina pro-Rusia?

Berbagai peluang itu sangat terbuka, apalagi Rusia pernah “menguasai “ melalui pemerintahan presiden Viktor Yanukovych, yang digulingkan oleh  Revolusi antiRusia pada tahun 2014. 

Yanukovich yang kini berada dalam pengasingan di Moscow, disebut-sebut oleh banyak kalangan sebagai calon pengganti Zeleinsky, seandainya Rusia berhasil menguasai Kiev, dan Ukraina.

Kemungkinan ekstrim yang lain sangat terbuka, walaupun relatif mustahil.

Dua hal itu adalah membelah Ukraina Timur-berbatas dengan Rusia, di mana Crimea, Donetsk, dan Luhansk berada, dan membiarkan Ukraina Timur apa adanya.

Kemungkinan lain adalah menjadikan Ukraina sebagai bagian tak terpisahkan dari Rusia.

Waktulah yang akan menentukan.

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2022/03/05/putin-ukraina-dan-perang-dunia-3-i-denazifikasi-dan-demiliterisasi-ukraina.