Masa Depan Media Cetak: Warren Buffet, Zuckerberg, dan Serambi Indonesia (III)

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

MENGAPA tulisan ini mendampingkan dua milyuner global yang terkenal, dengan media seperti Serambi Indonesia?

Jika yang dibahas adalah media dalam konteks evolusi dan gelombang digital, sesungguhnya kedua mereka lebih berasoisasi dengan profil demografi pembaca media yang sangat kontradiktif.

Walaupun mereka berdua adalah manusia super kaya, namun dalam hal perilaku membaca keduanya mempunyai kebiasaan yang berbeda.

Warret Buffet, salah satu miliuner terkaya dunia asal AS, memulai harinya dengan membaca media cetak, terutama The New York Times, The Wall Street Journal, dan The Washington Post.

Ia juga membaca koran lokal tempat di mana ia tinggal, Omaha World Herald, di Omaha, Nebraska.

Karena ia menganggap membaca sebagai pekerjaan-ia pelaku pasar modal yang handal-, bisa saja saharian ia membaca lebih dari 500 halaman, koran, majalah, dan buku, walaupun umurnya sudan 84 tahun.

Yang pasti waktunya dihabiskan untuk membaca apapun versi cetak.

Bagaimana dengan bacaan Zuckerberg?

Milyuner milenial ini berbeda terbalik dengan Buffet.

Bangun pagi Zuckenberg dimulai dengan memegang android, melihat Facebook, memeriksa Messenger, dan membaca WhatsApp.

Ia membaca dunia dan perkembangannya lewat aplikasi miliknya sendiri.

Ia menghabiskan bacaan satu buku online setiap 2 minggu.

Apa yang terjadi dengan Buffet dan Zuckerberg sesungguhnya telah dan sedang terjadi dengan pembaca Serambi Indonesia.

Ada kecenderungan asosiasi antara literas digital, bacaan media online, dan karakteristik demografis.

Ada korelasi negatif antara umur dan pilihan media online.

Generasi tua yang merupakan perantau dunia digital tetap saja setia membaca edisi cetak, sementara para milenial plus yang merupakan pribumi digital lebih banyak memberi perhatian pada edisi online.

Gambaran semakin mengerucutnya sirkulasi cetak Serambi Indonesia yang sempat mencapai 40.000 , kemudian turun dan mendatar, dan dalam 5 tahun terakhir dekade lalu menjadi sekitar 25.000.

Angka itu tidak berhenti, dan menuruti trend global dan nasional sirkulasi cetak Serambi Indonesia hari ini mungkin berada antara angka 15.000- 20.000.

Mudahnya akses digital, semakin murah dan terjangkaunya penggunaan android adalah alasan utama menurunnya pembaca cetak, apalagi dengan tanpa bayar, walau harus menunggu dengan sabar beberapa jam, pembaca dengan mudah beralih ke Serambi Online.

Di sebalik menurunnya pembaca edisi cetak, pembaca online justru semakin menaik.

Mulai dari puluhan dan ratusan ribu pada tahap awal dan tahun tahun berukutnya pengnunjung laman Serambi Online mencapai lebih setengah juta perhari, dan bahkan hari ini, pada saat-saat tertentu mampu menyentuh angka 1 juta pengunjung.

Sesungguhnya Serambi Indonesia telah siap menghadapi gempuran digital pada akhir dekade pertama abad ke 21.

Adalah sebuah keberuntungan untuk Serambi Indonesia, karena koran ini adalah unit dari sebuah group media terbesar nasional yang juga sangat sadar dan siap dengan berbagai perkembangan terakhir, terutama akselerasi media digital yang semakin meningkat di berbagai pelosok bumi.

Generasi Baru yang Sangat Berbeda

Dalam rekaman perjalanan Serambi Indonesia semenjak group Tribun ini memulai evolusi digital ada sebuah keunikan tersendiri yang dimilikinya.

Serambi Indonesia bersama sama dengan Banjarmasin Post, dan 3 koran daerah lainnya adalah kelompok pemula konvergensi media dari keluarga besar Tribunnews.

Dalam era baru itu Serambi mulai beroperasi dengan style “backpackers journalist” di mana sang wartawan menjadi polivalent.

Karena teknologi digital telah diterapkan maka kualifikasi wartawan yang terpakai menjadi lebih dari sekedar pengumpul dan penulis berita.

Serambi Indonesia mulai memiliki generasi baru yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.

Generasi ini, kemungkinan besar adalah generasi ketiga Serambi yang mempunyai talenta visual, keahlian teknis, keahlian menulis secara naratif, dan penguasaan perangkat teknologi keras dan lunak.

Kelompok ini segera menjadi “insinyur berita”.

Generasi inilah yang hari ini mulai berada posisi terdepan dalam mengayuh gelombang untuk keluar sebagai pemenang dalam arus besar digitalisasi media.

Merekalah yang memulai konvergensi opersional, dengan sekaligus menerbitkan edisi cetak dan edisi online sekaligus.

Cukup banyak perkembangan tahap dan proses konvergensi Serambi Indonesia yang sangat teknis dan tidak perlu diuraikan.

Yang pasti media ini adalah satu dari tiga atau lima besar kelompok  Tribun yang terus menerus pada ranking teratas pencapaian target.

Kalaulah rating ini bisa diterjemahkan dalam konteks tantangan digitalisasi media, maka sampai hari ini Serambi Indonesia telah berhasil memasuki ronde selanjutnya yang kita belum tahu bentuknya.

Tulisan klasik Schumpeter dalam Business Cycles (1939) telah memberikan uraian tentang pentingnya inovasi baik untuk perusahaan maupun sistem ekonomi secara keseluruhan untuk sebuah keberlanjutan.

Pilihan bagi media sekelas Serambi Indonesia dalam tantangan arus deras digitalisasi media hanya dua; inovasi atau mati.

Dan serambi Indonesia memeluk inovasi.

Itu yang dikerjakan oleh Bezos, dan itu pula yang dikerjakan oleh sejumlah media besar lainya sekelas The New York Times, Wall Street Journal,Financial Times, dan Nikei di Jepang.

Tetaplah Menjaga Kepentingan Publik

Akankah Serambi Indonesia berhasil keluar sebagai pemenang dan berlanjut dalam hantaman badai digital yang tak henti, yang seorangpun tak tahu apa dan bagaimana persisnya bentuk evolusi lanjutan yang dibutuhkan?

Yang pasti, dalam konteks bisnis media online hari ini syarat pertama perusahan media harus berganti baju dari perusahaan “berita digital” menjadi perusahaan “digital berita”.

Dan sampai dengan tingkat tertentu, relatif Serambi Indonesia telah menjadi perusahaan digital berita, dimana teknologi menjadi unsur terdepan.

Persoalan lain yang juga tidak kalah penting yang dihadapi Serambi adalah pilihan menulis apa yang diinginkan oleh publik versus apa yang seharusnya penting bagi publik.

Salah satu kemudahan yang dimiliki oleh perangkat digital hari ini adalah kemampuan mengetahui keinginan publik segera dapat dideteksi oleh media online.

Dalam konteks pragmatis keberlanjutan kehidupan media, perusahaan cenderung menulis apa yang disukai publik, bukan yang seharusnya penting bagi publik.

Jika jalan pintas ini yang dipilih maka maka media akan kehilangan kredibilitas, sesuatu yang sangat berbahaya dalam jangka panjang.

Ketika Bezos menyebut The Post berasosisi dengan kelembagan, maka tidak salahnya jika dalam konteks daerah, Serambi Indonesia dalam banyak hal juga telah berperan sebagai lembaga.

Ujian terbesar Serambi Indonesia dalam masa konflik dan pascatsunami telah menjadikan media ini sebagai lembaga yang menjaga kepentingan publik.

Pilihan untuk tetap berada pada posisi menjaga kepentingan publik dalam banyak hal membuat media ini dipercaya oleh pembacanya, dan bahkan dapat menjadi barometer pemberitaan daerah.

Konsistensi menjaga kepentingan publik inilah yang akan menjadi salah satu variabel kunci keberlanjutan media online Serambi Indonesia di masa yang akan datang.

Ramalan tentang punahnya media cetak, surat kabar, telah ditulis dengan  sangat runtut oleh Philip Meyer- Professor Jurnalisme dari Unversitas North Caroline dalam bukunya The Vanishing Newspaper (2009).

Ia membuat prediksi pada tahun 2043 media cetak koran akan punah.

Sepertinya kalau saja tingkat inovasi dan adaptasi Serambi Indonesia terhadap perkembangan digital berada pada tingkatan hari ini, jikapun kematian media cetak lebih cepat dari ramalan Meyer, Serambi Indonesia masih tetap akan mampu mengatasinya dengan baik.(*)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2022/02/18/masa-depan-media-cetak-warren-buffet-zuckerberg-dan-serambi-indonesia-iii.