Masa Depan Media Cetak: Bezos, The Post dan, Perusahaan Digital Berita (II)

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

ISTILAH The Post sebenarnya adalah nama lain yang diberikan oleh pembaca untuk salah satu koran terbesar dan terdepan, The Washington PostAmerika Serikat.

Sama dengan pembaca Serambi Indonesia yang menyebut Serambi saja, pembaca The Washington Post, juga cukup menyebutnya The Post saja.

Apa yang menarik tentang The Post adalah ketika Bezos memutuskan membeli koran The Post itu beberapa waktu yang lalu.

Apa yang menjadi perhatian besar banyak pihak adalah seorang raja digital membeli sebuah industri media yang sedang memasuki wilayah senja kala.

Apa yang telah terjadi dengan The Post di bawah Bezos?

Yang pasti edisi cetak seperti yang sedang terjadi pada saat ia membeli,-the Post mempuyai oplah sekitar 300 ribu cetak 7 tahun yang lalu, tidak menjadi perhatian Bezos.

Hanya beberapa ratus ribu pelanggan online sajalah yang menjadi fokus perhatiannya.

Sebagai raja dari mesin uang digital, dia sepenuhnya mencari bentuk baru kreativitas digital yang akan membuat The Post tidak hanya tidak mati terkubur, akan tetapi juga menjadi mesin uang baru baginya.

Ada banyak penilaian dan analisa tentang kenapa sang raja digital itu membeli koran The Post pada tahun 2013.

Ada yang menyebut bagi banyak orang kaya sekelas Bezos, memiliki media adalah ibarat anak kecil mempunyai “mainan”.

Sang anak bisa mengutak-ngatik, membuat hidupnya terhibur, kapan saja dan kemungkinan juga dimana saja.

Dari Ladang Bisnis Hingga Alat Politik

Kepemilikan media bagi orang sekelas Bezos sangat banyak artinya dalam konteks “mainan”, -menjadi selebriti, berada dalam jaringan yang sangat luas dari berbagai kalangan.

Dan bahkan dalam banyak hal dapat menjadi senjata ampuh dalam berbagai kebijakan publik dan dinamika politik.

Tidak hanya di AS, di berbagai negara pun, banyak jutawan yang memiliki media, baik sebagai ladang bisnis profesional, maupun alat politik untuk mempengaruhi kekuasaan.

Di Indonesia saja bagaimana kepemilikan media yang dimiliki oleh para orang kaya berasosiasi dengan politik.

Jutawan sekelas Abu Rizal Bakri, Surya Paloh, dan Hary Tanujaya adalah contoh nyata orang kaya yang memiliki media, baik sebagai ladang bisnis maupun sebagai barang “mainan”.

Seperti yang ditulis oleh Stepahani Danning dalam majalah Forbes (2018), orang boleh saja berspekulasi tentang motif pembelian itu ataupun alasan tersirat dari Bezos sendiri.

Akantetapi dari pengakuannya sendiri, ia menyebut tidak tahu apa apa tentang dunia media.

Ia bahkan menyebutkan tidak ada sebuah “analisa” khusus layaknya langkah mengakusisi sebuah perusahaan.

Yang menjadi sandarannya, tak lebih dari intuisi bisnisnya, tak lebih dari itu.

Ketika Bezos ditanya lebih jauh oleh banyak kalangan ia dengan sederhana menyebutkan bahwa the Post, betapa pun, bukan hanya koran.

The Post adalah lembaga, sebuah penerbitan penting di ibu kota negera adi daya dunia yang juga adalah prestise.

Media sekelas The Post cukup banyak perannya dalam kehidupan AS, terutama dalam keberlanjutan demokrasi.

Naluri bisnis Bezos mulai tampak ketika ia menyebutkan kematian sebagian besar media cetak akibat hadirnya internet tidaklah selesai hanya karena datangnya dunia digital itu.

Ia menyebutkan ada peluang baru yang tak terbatas dengan penerbitan media online yang bahkan dapat merambah ke seluruh penjuru bumi.

Apa yang disebutkan Bezos sebenarnya bukan barang baru, karena memang kecepatan berita via online dari Pameu, Aceh Tengah, Pantai Sibigo, Sinabang, atau kampung Jungke, Permata, di Bener Meriah ke London atau Washington, atau sebaliknya, hanya dalam hitungan detik.

Tidak seperti media cetak, media online tak butuh kertas, biaya cetak, biaya distribusi manual, dan bahkan pengiriman konvensional.

Yang tidak bisa kita bayangkan adalah kreativitas digital apalagi yang akan dikerjakan Bezos yang akan menjadikan “highway uang” bagi the Post di masa yang akan datang.

Yang pasti saat ini saja jaringan toko online Amazonnya adalah ladang data terbesar yang merangkum perilaku konsumen AS dan dunia terhadap berbagai produk.

Via Amazon, Bezos tahu semua berbagai ceruk perilaku manusia, dengan melihat perilaku pengeluaran konsumen, jenis barang yang diminati, asal barang, naik turunnya belanja, bahkan sampai kepada psikologi pasar.

Tidak berhenti di situ dengan kekuatan “pasukan algoritmanya” semua informasi itu sebagian besarnya dapat diramu dengan berbagai macam perkembangan dan kemudian dapat ditarnsformasikan menjadi “kimia” pemberitaan dan opini di the Post yang dimilkinya.

Dan hasilnya? Pembaca the Post seakan dapat merasakan koran online itu mengenal mereka dengan baik.

Tidak mengherankan, semenjak ia mengambil alih the Post telah terjadi perobahan yang sangat signifikan.

The Post telah berobah menjadi sebuah bengkel besar berita digital dengan banyaknya “insinyur” berita yang cukup canggih.

Jumlah pekerja medianya telah bertambah lebih dari 1.000 orang, lebih dari 2 kali lipat semenjak ia mengambil the Post pada tahun 2013.

Kultur perusahaan telah sepenuhnya bertransformasi dan lebih berfokus kepada organisasi teknologi.

Di tangan Bezos, The Post telah berobah dari dari perusahaan berita digital, menjadi perusahaan digital berita.

Dua nama yang sangat kontradiktif.

Tidak cukup dengan itu ia juga mengembangkan strategi distribusi konten dengan cara bekerjasama dengan berbagai media sosial seperti facebook dan twitter.

Akibatnya jumlah pengunjung laman The Post bertambah luar biasa.

Pada bulan November 2015 pengunjung laman the Post mencapai angka lebih dari 70 juta, melewati raksasa media cetak dunia terbesar, The New York Times yang berada sedikit di bawahnya.

Tidak hanya itu jumlah pelanggan yang hanya beberapa ratus ribu ketika ia mulai, pada tahun 2017 jumlah pelanggan online telah mencapai angka lebih dari 1 juta, dan bahkan saat ini telah mencapai 3 juta juta pembaca.

Apakah the Post sudah mendapatkan laba?

The Post yang sudah berumur 140 tahun itu mendapatkan pukulan telak ketika terjadi krisis keuangan global pada tahun 2008, karena salah satu tambang terbesar pemasukannya, iklan, berkurang sangat signifikan.

Petinggi the Post yang baru saja pensiun Martin Baron menyebutkan, Bezos hanya butuh tiga tahun semenjak 2013 untuk membuat The Post untuk kembali mendapat laba semenjak kemarau rugi mulai tahun 2008.(Bersambung)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2022/02/17/masa-depan-media-cetak-bezos-the-post-dan-perusahaan-digital-berita-ii.