Masa Depan Media Cetak: Alkhwarizmi, Bezos, The Post, dan Acaman Kepunahan (I)

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

Di kalangan millineal kita di Aceh, seperti juga di belahan bumi lainnya, nama Jeff Bezos sangat dikenal, terutama karena dia sangat kaya.

Menurut Majalah Forbes pada tahun 2021 Bezos menjadi orang nomor dua terkaya di dunia dengan total kekayaan 187 miliar dolar atau sekitar 2,6 kuadriliun Rupiah.

Bandingkan saja dengan total APBN 2022 Republik Indonesia yang berada di kisaran 2.70 kuadriliun Rupiah atau hanya sedikit lebih besar dari kekayaan Bezos.

Kekayaan Bezos melampaui koleganya yang juga kaya sebelumnya, seperti Mark Zuckerbeng, Bill Gates, Larry Page, dan Larry Ellison.

Hanya Elon Musk, CEO Tesla, saja yang mampu melebihi Bezos, dengan nilai kekayaan 269 miliar Dollar.

Uniknya semua nama yang kaya itu terkait dengan bisnis yang berurusan dengan turunan pekerjaan yang inspirasi awalnya berasal dari Abu Musa Al Khawarizmi, Ilmuwan Islam ternama asal Persia.

Dalam sejarah peradaban Islam, Abu Musa Al Khawarizmi ini hidup pada abad ke 9, ketika Islam sedang jaya-jayanya di bawah pemerintahan Khalifah Al Makmun, pada masa Dinasti Abasiyah.

Banyak yang tidak tahu istilah algoritma yang kini menjadi jantung dan otak sumber kekayaan Elon MuskBezos, Marc Zuckebeng, Bill Gates, dan para pelaku bisnis digital ini, semuanya berasal dari temuan Alkhwarizmi tentang ilmu Aljabar.

Nama Alkhawarizmi, menjadi terkait dengan digital awalnya karena lidah ucapan Portugis pada awalnya Algoritmo, yang kemudian terbawa ke dalam bahasa Inggris menjadi algorithm.

Dari Amazon Hingga Paket Wisata Luar Angkasa

Semua kekayaan Bezos praktis berasal dari berbagai ceruk digital yang dilakoninya.

Toko online pertama di dunia, Amazon adalah inovasi maha karya Bezos.

Amazon, sampai kini masih menjadi juara toko online global dan mesin uangnya yang tiada tara.

Amazon kemudian mengilhami Ali Baba di Cina, Indiamart di India, Tokopedia di Indonesia, dan cukup banyak yang lain yang sejenisnya yang tersebar di seluruh dunia.

Bezos juga memiliki perusahaan penerbangan ruang angkasa yang juga sebagiannya sangat berurusan dengan teknologi digital.

Penerbangan Blue Origin yang membawa turis ke angkasa luar juga sangat terkait dengan penggunaan teknologi algoritma.

Kini Blue Origin akan berwajah baru dengan label Blue Moon yang akan membawa turis mendarat di bulan.

Bezos juga akan membuat station ruang angkasa-Orbital Reef tempat manusia tamasya di luar angkasa.

Ada cukup banyak perusahaan lain yang ditekuninya yang semuanya berurusan dengan masa depan umat manusia, seperti bio teknologi kesehatan, pertanian, dan tehnologi keuangan, yang kesemuanya berurusan banyak dengan teknologi digital.

Ia juga mempunyai perusahaan Audible, buku teks yang hanya didengar saja bacaannya, tanpa buku cetak atau buku elektronik.

Rangkaian bisnis terakhir yang dimasuki Bezos adalah media cetak.

Pada tahun 2013 The Washington Post, salah satu koran yang paling berpengaruh baik dalam berita investigasi dan opini publik dibeli oleh Bezos.

Koran ini pernah menjadi pangkal mundurnya Richard Nixon dari presiden AS, karena wartawan kawakannya, Bob Woodward dan Carl Berstein yang membongkar habis konspirasi jahat dan kelicikan dalam pemilihan presiden AS.

Langkah Bezos membeli koran itu membuat banyak pihak terkesima, karena bisnis media cetak, dan buku cetak sekalipun telah mengalami gempuran yang luar basa dari media digital.

Banyak koran dan majalah terkemuka di berbagai negara yang mengalami kemunduran hebat atau mati, dan bahkan ketika mereka pindah ke media digital pun masih saja ancaman kebangkrutan tak dapat dielakkan.

Senja Kala Media Cetak

“Sunset industry” adalah kata yang jamak dipakai untuk industri media cetak, seiring dengan tampilnya teknologi digital.

Media online telah menggerogoti media cetak secara perlahan, namun keras dan telah banyak yang menemui ajalnya.

Menurut laporan koran the Wahington Post (November,2021), di AS saja jumlah media cetak lokal dalam 15 tahun terakhir yang telah terkubur sekitar 2200 yang diikuti dengan hilangnya lebih setengah pekerjaan wartawannya.

Persoalan kematian media cetak sebenarnya juga terjadi secara merata di seluruh dunia.

Mulai dari negara maju seperti AS, negara-negara Eropah, Australia, dan Jepang.

Tidak hanya itu, cukup banya media di negara berkembang seperti India, Mexico, Brazil, juga mengalami nasib serupa.

Di Indonesia, koran ternama Bernas di Yogyakarta yang termasuk dalam kelompok media senior tiga zaman dan berpengaruh, terkubur pada tahun 2018, dan kemudian beralih kepada media online.

Alasan kematian edisi cetak adalah karena pengaruh internet.

Ada cukup banyak media cetak yang mati atau segera hijrah kepada media online seperti Jakarta Globe, Sinar Harapan, Harian Bola, Soccer, dan Jurnal Nasional.

Perkembangan teknologi digital adalah alasan utama yang menyebabkan sekarat atau matınya media cetak.

Berita atau kejadian yang terjadi yang ditulis dalam media cetak terus saja berkembang dan dengan mudah diikuti oleh media digital, membuat media cetak mati kutu.

Sebaliknya, media cetak harus menunggu 24 jam untuk kembali dapat menulis kepada pembacanya apa yang telah dan sedang terjadi yang sangat terikat dengan waktu publikasi.

Akses yang mudah via android, apalagi dengan berkembangnya media sosial adalah racun sistemik yang terus menerus membunuh media cetak, baik koran harian, mingguan, dan bahkan majalah.

Statistik ancaman media online terhadap media cetak digambar dengan sangat dramatis oleh GlobalEbIndex pada tahun 2019.

Lembaga ini mencatat survei sekitar 400.000 responden di dunia, antara tahun 2014-2018 saja, media cetak hanya dibaca 43 menit per hari.

Sementara itu responden yang sama menyebutkan membaca media online 6,45 menit per hari.

Tidak berhenti bersaing dengan dunia digital, penerimaan dari iklan yang biasanya cukup besar juga berkurang dengan sangat drastis.

Mengutip dari sebuah sumber anonim, Statista (2019) menyebutkan trend turunnya penerimaan iklan baik dari media cetak, koran maupun majalah di AS dengan sangat drastis.

Jika pendapatan dari iklan seluruh koran AS pada tahun 2012 berada pada angka 25 miliar dolar, angka itu terus menurun setiap tahun, dan menjadi 5.5 miliar dolar pada tahun 2020.

Demikian juga dengan penerimaan iklan untuk majalah pada tahun 2019 berada pada angka 12.1 miliar dolar, dan diperkirakan akan tinggal hanya sekitar 6.6 miliar dolar pada tahun 2024.

Jumlah ini sangat jauh turun dibandingkan dengan penerimaan pada tahun 2012, sebesar 20.6 miliar dolar.

Apa yang terjadi di AS juga dialami di Indonesia.

Dominasi belanja iklan di TV dan media online jauh meninggalkan media cetak.

Menurut laporan survei perusahaan informasi global Nielsen misalnya pada semester pertama tahun 2020, dari juma total belanja iklan 120 triliun rupiah, media cetak hanya kebagian 9,6 trillion.

Jumlah terbesar didominasi oleh TV dengan jumlahnya 88 trillion, sementara media online memperoeh 24,2 triliun.

Sisanya sekitar 600 miliar jatuh ke radio.

Kini gambaran ancaman terhadap media cetak sudah semakin jelas, jumlah waktu dibaca, jumlah pembaca, dan jumlah uang yang didapatkan dari iklan.

Pertanyaannya kemudian adalah kapankah media cetak akan dikafankan dan menjadi sejarah? (Bersambung)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.


Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2022/02/16/masa-depan-media-cetak-alkhwarizmi-bezos-the-post-dan-acaman-kepunahan-i.