Catatan Perjalanan Ramadhan – Istanbul, Rue de la Roquette, Haarlemmerstraat, dan St. Mar’sk Square

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Kata “ barat” dalam khazanah peradaban Islam, bahkan sampai dengan hari ini, berasosiasi dengan sesuatu yang licik, jahat, penindas, dan bahkan sampai kepada ungkapan ‘kafir” dengan segala keburukannya.

Hal itu sangat mudah dimengerti, karena psikologi sejarah umat Islam adalah kaum yang ditindas, dijajah, ditipu, diadu domba, dan berbagai ungkapan keburukan lain yang dilakukan terhadap umat Islam, terutama semenjak abad ke 18 oleh bangsa-bangsa Eropa.

Ingat saja kasus pemaksaan pindah agama yang membuat Islam di Filipina, kecuali Filipina Selatan, yang dipaksa menjadi pemeluk Katholik oleh penjajah Spanyol.

Untung saja motif ekonomi lebih berperan dalam model penjajahan Inggris ataupun Belanda, sehingga tidak ada cerita “inkusisi”-hukuman mati bagi yang tak mau pindah agama ala Spanyol- yang berlaku di Andalusia pada abad ke 15.

Inggris dan Belanda, menurut sejarah, memang mengizinkan para misionaris untuk “berdakwah”, namun kedua negara itu hanya melindungi, tidak mensponsori pemindahan agama.

Ini sangat berbeda dengan kasus Spanyol misalnya, di mana seluruh kawasan Amerika Latin dipaksa menjadi penganut agama Katholik, dengan bermacam ragam cara.

Demikian juga yang terjadi di Filipina pada abad pada abad ke 17, Islam sebagai “agama langit pertama” yang ada di Filipina, kemudian terhapus seiring dengan penjajahan Spanyol.

Kerajaan Tagalog, yang berpusat di Maynila- Manila hari ini, yang berstatus negara protektorat Kerajaan Brunai, menganut agama Islam, di bawah Raja Sulaiman.

Tidak lama setelah kedatangan Magelhens pada tahun 1519, yang kemudian diikuti oleh Miguel de Lopez Legazpi 46 tahun kemudian-1565, sejarah merobah pulau-pulau Luzon, Visayas, dan Pallawan.

Peta agama berobah menjadi dominasi total Katholik, karena bujukan, dan inkuisisi-pemaksaan.

Hal itu tak terjadi di Pulau Mindanao di Filipina Selatan dan pulau-pulau kecil sekitarnya, karena mereka terus menerus berperang melawan Spanyol dan leguh dengan Islam.

Pikiran ini adalah “endapan” lama yang terus menerus menggelitik saya, semenjak rencana saya ke London mengujungi anak saya yang sedang sekolah, batal karena strain pandemi baru “omicron” sedang bergelantungan di Inggris pada akhir Januari 2021.

Kami bersepakat untuk bertemu di Istanbul yang butuh jam terbang sekitar 2 jam lebih dari London, sama dengan Jakarta-Banda Aceh.

Pertemuan keluarga itu sekaligus menjalani Ramadhan di negeri “indatunya” anak-anak saya, karena isteri saya kebetulan berdarah Turki.

Endapan “barat” itu terus menerpa saya dengan dashyat begitu mendarat, melihat bandara raksasa dengan kemegahan tak kalah, bahkan mungkin lebih hebat dan anyar dari bandara Schippol Amsterdam, bandara Heathrow di London, ataupun bandara tersibuk Jerman, Frankfurt.

Diam-diam dalam hati saya berucap, saya telah tiba ke negeri Islam yang mengalahkan imperium Romawi Timur Byzantium, merampas ibu kotanya, Konstantinopel sekaligus mengubur habis imperium yang telah berusia lebih dari 1.000 tahun.

Ya di tangan Turkilah, Romawi, icon kehebatan “barat” itu diruntuhkan dan dihapus dari sejarah di muka bumi.

Saya menjadi sangat emosional dan tenggelam, -meminjam istilah almarhum Buya Hamka-, bergetar “ghirah”- semangat yang sangat dalam dan merasuk sukma.

Inilah negeri yang tak pernah bisa dicekoki oleh “barat” sampai hari ini, walaupun pernah kalah dalam Perang Dunia I.

Taxi yang kami sewa terus berjalan menuju pusat kota yang telah memakan waktu lebih dari 40 menit.

Terlihat bangunan lama dan baru, ada real estate yang terhenti pembangunannya, mungkin karena pandemi, ada jalan yang sedang diperbaiki.

Sesekali ada gedung tua dan klasik, dan tak jarang terlihat ada menara panjang runcing, ke langit, dan itu adalah mesjid khas Ottoman Turki yang tidak pernah berubah.

Taxi kami mulai meninggalkan highway, masuk ke jalan kota, untuk kemudian masuk ke jalan kecil.

Jalan itu tak ubahnya seperti lorong yang agak besar dengan dasar berbatu tertata rapi, walaupun sekali dua ada lobang yang tertimpa aspal.

Melihat jalannya yang sangat klasik itu, saya bergumam, “ini kota tua” dengan infrastruktur klasik yang telah berumur ratusan tahun, dan mungkin mendekati satu milenia.

Tepat di sebuah persimpangan anak saya minta sopir berhenti.

“Kita sudah sampai”, sebut anak saya yang telah duluan datang sehari sebelumnya dari Aceh.

Saya melihat bangunan biasa yang rapi, tidak ada pencakar langit, hanya bangunan bertingkat saja, kantor, atau apartemen.

Kami naik ke lantai 3 dari sebuah gedung, tempat dimana anak saya menyewa apartemen untuk dua malam.

Ia memberi tahu saya tempat kami menginap ini berada di kawasan Besiktas.

Anak saya mengatakan, mungkin kita harus pindah setelah malam besok, “ayah mungkin ngak bisa tidur, karena ada nyanyian dan musik sampai tengah malam”.

Saya mulai “curiga”, namun tak memberi reaksi cepat.

Saya menjawab “baik, besok kita lihat, baru kita putuskan”.

Saya tertidur pulas kecapean semenjak jam tujuh pagi, dan baru bangun menjelang ashar.

Untung saja ada fasilitas “jamak takhir” sehingga puasa saya menjadi lengkap.

Begitu siap mandi, shalat, dan berpakaian anak saya menyodorkan alternatif “itinerary” – rencana rute atau perjalanan yang telah disusun untuk hari pertama itu.

Ada banyak pilihan, tetapi saya segera memilih Hagia Sophia, dan kami berlima plus cucu kecil saya yang baru berumur dua tahun untuk datang ke tempat yang paling bersejarah itu.

Kami turun ke bawah, dan membuka pintu, keluar dari lorong kecil apartemen.

Jam menunjukkan pada angka 5 .20 sore hari, masih ada waktu lebih dari 2,5 jam sebelum buka puasa.

Dari dalam lorong terlihat di ujung ada dua tiga meja kosong dan kursi tertata rapi dengan alas meja putih yang indah.

Ada gelas dan piring berikut dengan serbet yang sangat teratur, juga berwarna putih.

Semua tak kurang ibarat sebuah jamuan formal sedang disiapkan, apalagi sambil menunggu cucu saya turun dengan ibunya, ada satu dua waiters-pelayan yang lalu lalang dengan pakaian yang juga tertata rapi.

Dalam hati saya “bukan main persiapan buka puasa di negeri ini”.

Bangunan tokonya sederhana, klasik, akan tetapi pengaturan kaki limanya, persis seperti hotel bintang lima, bukan main.

Nuansa Eropa di Besiktas

Begitu kaki saya ke luar llorona, saya terperanjat.

Mata saya terbelalak, karena yang saya lihat adalah rue de la Roquette, sebuah district di sudut kota Paris yang penuh dengan bar yang terletak dekat penjara Bastile yang terkenal itu.

Orang-orang baru saja mulai berdatangan, mereka segera memesan makanan, dan itu bukan untuk berbuka puasa, makanan yang dihidangkan oleh pelayan segera disantap.

Mereka baru pulang kantor, dan itu adalah makan malam, atau mungkin saja minum-minum sore, ibarat anak muda Banda Aceh minum kopi di Solong, Zakir, atau Cut Nun, pada hari-kari biasa.

Bedanya di Aceh, kopi, di Beksitas minumannya bir atau apa saja alkohol lainnya.

Satu dua saya melihat ada yang minum kopi.

Laki-laki dan perempuan umumnya perokok.

Ada yang datang dengan pakaian rapi, -mungkin pekerja kantoran, dan ada pula anak muda yang datang dengan celana jeans mahal tertambal sobek, yang oleh anak saya disebut “jeans ripped”.

Ada satu dua pasangan milenial yang berciuman sambil jalan.

Ini Eropa, saya ngomong sendiri.

Isteri saya menghela tangan saya, “ayo pergi, jangan lihat urusan orang”, katanya.

Saya bergerak berjalan di sepanjang cafe-cafe itu.

Sepanjang jalan kiri kanan, bahkan dipersimpangan, utara-selatan, timur – barat, sepanjang puluhan meter- terlihat kerumunan manusia datang, sambil merokok, dan mengambil kursi, lalu memesan makanan, dan segera menghirup bir atau minuman lainnya.

Saya punya ide lagi.

Bagi yang ingin melihat sekelumit kehidupan sudut-sudut Eropa, kalau uangnya tak cukup, maka tak perlu memaksa diri pergi ke negara Eropa.

Datang saja ke Istanbul, ada Eropa di sana.

Ketika saya melihat ada pasangan paruh baya di Besiktas yang menegak bir dalam pitcher-gelas besar isi sekitar 2 liter, sebelum maghrib di bulan puasa, maka itu adalah kawasan kafe yang terletak di kawasan Haarlemmerstraat, Amsterdam Belanda.

Ketika saya melihat ada pasangan memesan kebab doner yang dipasangkan dengan anggur merah Valpoilicella, maka itu adalah kawasan Saint Mar’sk Square di Venisia Italia.

Ketika kami pulang jam 12 dari Hagia Sophia, sekitar dari 50 meter dari apartemen kami, ada group band, ada musik jreng-jreng, dan dansa ria tua muda, maka itu adalah cerminan kawasan Soho di London.

Ramadhan di Besiktas bagi saya sudah cukup untuk melihat Eropa, tak usah ke Inggris, Belanda, Paris, apalagi Italia.

Perjalanan ke Hagia Sophia

Kami meninggalkan Besiktas jam 5.35, dengan menumpang ferry selat Bosphurus menuju stasiun pemberhentian Eminonu untuk lanjut ke Hagia Sophia.

Waktu yang ditempuh lebih dari 20 menit.

Ada keindahan yang unik berlayar di Selat Bosphorus selepas Ashar, apalagi tak ada hujan atau awan gelap.

Ada kemilau matahari yang semakin lembayung menerpa dua sisi Bosphorus.

Asia yang sarat dengan desah Ottoman tua, dan Eropa yang penuh dengan bangunan indah Byzantium klasik yang telah “dislamkan” 600 tahun yang lampau.

Kami mendarat di Eminonu sebelum jam 6, dan jaraknya ke Hagia Sophia sekitar 2,5 kilometer.

Kalau saja saya sendiri Insya Allah kurang dari 15 menit akan tembus, walau puasa sekalipun.

Tapi kali ini tidak, ada isteri dan anak saya yang tak biasa joging, sehingga kami mengambil taxi kuning.

Saya sudah membaca di beberapa blog internet tentang perilaku sopir taxi kuning di Istanbul, terutama selama masa inflasi akibat pandemi yang melanda Turki akhir-akhir ini.

Kami mengambil dua taxi, dan kami menawar. Disepakati 15 lira.

Saya mengulangi “did you five teen or fifty?”, kedua supir terpelongo.

Five teen right-15 lira ya?

“Yes”, jawab mereka.

Saya, isteri, dan anak bungsu saya dalam satu taxi, sementara anak perempuan saya dan suaminya beserta anaknya di taxi yang lain.

Jalan menuju Hagia Sophia agak padat, dan kami masuk dari arah belakang.

Taxi kami harus berhenti kurang 300 meter sebelum sampai ke Haga Sophia.

Dan kini taxi kuning mulai berulah.

Supirnya mulai minta 75 lira, anak saya bergeming, akhirnya diturunkan ke 50 lira.

Akhirnya anak saya melihat ke argometer yang menunjukkan 35 lira.

Anak saya menyodorkan 35 lira, sembari menunjukkan ke Argo.

Sang sopir kesal, mengambil uang, lalu pergi.

Cerita yang sama menimpa menantu saya.

Sang sopir minta lebih banyak, anak saya karena tak ada uang kecil menyerahkan lembaran 50 lira, supirnya mau mengambil semuanya.

Menantu saya mengancam akan menelepon polisi.

Akhirnya ia kesal, melempar lembaran 50 lira itu, lalu pergi.

Untuk kedua kejadian itu saya sangat menyesal, kenapa tak membiarkan uang yang tak seberapa nilainya itu, untuk mereka yang sedang susah?

Tetapi kenapa mereka curang? Kenapa mereka tidak minta baik-baik.

Ah sudahlah, mudah-mudahan Allah akan lebih membuka lagi hati kami ketika bertemu lagi hal yang serupa.

Tetapi hal yang seperti itu tak pernah terjadi lagi dengan taxi kuning yang lain, tak pernah.

Kami berjalan perlahan, dan kubah masjid mulai tampak.

Semakin dekat semakin besar pula kubahnya menonjol.

Mula-mula yang terlihat Masjid Biru dan tak lama kemudian terlihat Hagia Sophia yang tua tetapi cantiknya bukan kepalang.

Jarak keduanya hanya dua menit jalan kaki.

Mengenang Ottoman di Sultan Ahmed Square

Sultan Ahmed Square, itulah nama taman Indah yang terletak antara Hagia Sophia dengan Blue Mosque-Masjid Biru, atau juga disebut denga nama Masjid Sultan Ahmad.

Masjid ini mempunyai sejarah terbalik dengan Hagia Sophia yang direbut oleh Sultan Mehmed II dari Kaisar Konstantin XI Palaiologos sekaligus memindahkan ibu kota kerajaan Ottoman dari Adrianopel-kota Edirne hari ini di dekat perbatasan Yunani dan Bulgaria, sekaligus menganti nama kota itu menjadi Istanbul.

Terbalik dengan Hagia Sophia, Mesjid Biru adalah cerita kepiluan dan kepedihan Sultan Muda Ahmed, karena kalah berperang dengan Kerajaan Hapsbrug -Austria, dan juga kalah berperang dengan Persia yang dipimpin oleh Shah Abbas I.

Perang sesama kerajaan besar Islam ini berlangsung lebih dari dua ratus tahun, dengan posisi kalah menang yang bergantian.

Ahmed nasibnya tak baik, ia kalah di kedua front- Eropa dan Timur Tengah.

Ahmed berduka panjang, dan akhirnya untuk menaikkan moral rakyatnya ia memerintahkan arsitek hebat Sedefkar Mehmed Afgha untuk merancang dan membangun Masjid Biru.

Sedefkar adalah murid cerdas dari Mimar Sinan, arsitek kampiun Ottoman yang melayani tiga Sultan besar Ottoman, Sulaiman Agung, Selim II, dan Murad III.

Sinan yang karya terindahnya Masjid Sulaimaniyah di Istanbul dalam khazanah arsitektur klasik di samakan kelasnya dengan Michael Angelo, arsitek dan perupa.

Waktu sudah menunjukkan jam 6 lewat 10 menit.

Ada perasaan sejuk di dada melihat kebalikan seperti yang terjadi Besiktas.

Banyak keluarga Turki yang sudah menduduki kawasan Sultan Ahmad Square menunggu waktu berbuka puasa.

Karpet kecil dibentangkan dengan keragaman jumlah dan penampilan.

Ada kakek nenek bersama ayah ibu dan para cucu, ada pula pasangan muda dengan 2 atau 3 anak kecil, dan ada pula pasangan yang tanpa anak, tak jelas mereka sudah menikah atau belum.

Ada pula satu dua turis,- mungkin bukan Islam, yang mondar mandir berjalan sambal mengambil foto.

Terlihat ada keragaman yang menonjol di Taman yang indah nan hijau itu, namun semuanya seragam dalam satu semangat, berbuka puasa di sebuah situs klasik kemegahan Islam yang tiada tara.

Secara umum, ada dua gugus besar populasi yang nampak di mata saya yang memenuhi Taman Sultan Ahmed pada sore itu.

Yang pertama adalah kaum muslimin bukan kota, di mana wanita berpakaian muslimah biasa, namun tak memakai purdah, dan juga tak modis.

Ditemani oleh suami yang juga berpakaian biasa juga, satu dua yang tua memakai peci Turki sedang.

Kemungkinan besar mereka datang dari luar Istanbul, bahkan mungkin umumnya dari kawasan pedesaan dengan tradisi agama yang kuat.

Mereka sederhana, berpenampilan tradisonal, dan bahkan terkesan fanatik.

Gugus populasi kedua adalah para muslim urban, kelas menengah yang terkesan dari penampilan dan rantang makanan yang dibawa.

Mereka berpakaian modis, pria memakai jas atau yang sejenisnya, tidak berpeci.

Bahkan ada beberapa pria muda yang berpakaian sangat modis dan mempunyai potongan rambut panjang Ertugrul seri ke 5 film sejarah Ottoman, arahan sutradarai Mehmet Bozdac.

Rambut Ertugrul yang diperankan oleh Engin Altan Düzyatan, bintang film Turki itu, walaupun panjang, tertata indah di kepala para anak muda itu.

Para wanita urban yang hadir sore buka puasa itu juga berpakaian islami yang sangat modis.

Mereka berpakaian bukan tradisional dengan keragaman aurat tetutup dengan baju abaya mode paling anyar yang dikombinasikan dengan pashmina warna warni bercitarasa tinggi.

Mereka mungkin keturunan para pejuang hak-hak perempuan Turki tahun tigapuluhan, yang berani berbeda, saya rasa.

Buka puasa, 17 menit lagi, anak saya telah membeli air, masih ada sisa kurma mejol dari AS di tas isteri saya, dan ada pula 3 potong roti Simit Turki yang masih hangat.

Saya melihat ada dua mobil sedekah makanan di samping pintu masuk Hagia Sophia.

Naluri saya menyatakan itu pasti makanan berbuka untuk mereka yang tak berpunya, kaum muslim yang ada di sekitar itu.

Saya mendekat, saya lihat ada keragaman di situ, ada yang mungkin kurang keuangannya, tapi banyak pula yang memakai jas rapi.

Ingin mendekat, tetapi saya kuatir mengambil hak orang miskin yang akan berbuka puasa.

Akan tetapi keingintahuan saya tentang buka puasa awam Turki semakin menderu, apa makanannya? bagaimana rasanya, berapa jumlahnya? Semakin menggelitik.

Ya allah, maafkan saya, saya hanya ingin tahu, dan, saya masuk ke barisan yang terakhir.

Begitu mendekat, saya melihat makanannya masih banyak.

Saya mengambil kotak kecil, dan sambil tersenyum petugas mobil sedekah itu memberi saya 3 mangkuk sup Turki, dua potong roti khas bulan puasa Turki, Ramadan Pidesi.

Saya tidak memaksa lagi, saya menolak air, karena kami punya banyak air mineral botolan.

Saya kembali ke keluarga di Taman, dan tak lama terdengar bunyi azan bersahut-sahutan antara masjid Hagia Sophia dan masjid Biru.

Uniknya, azannya cepat, persis seperti iqamat yang panjang, tetapi indah juga kedengarannya.

Dalam hati saya apakah azan seperti ini tradisi Ottoman, atau innovasi masyarakat Islam industrial yang semakin sibuk.

Kami berbuka, semua yang hadir di Taman itu berbuka.

Ada perasaan lega, senang, dan gembira melihat ummat Islam, apapun latar belakangnya duduk bersama di sebuah taman besar, di antara dua masjid yang sangat bersejarah.

Iqamat telah diserukan, kami memutuskan maghrib ronde kedua setelah selesai shalat ronde pertama.

Kami berwudhu di bangunan klasik dengan keran logam yang sangat antik.

Air dingin musim semi kini menusuk tulang, tetapi rindu bertemu Khalik dalam sebuah masjid bekas pusat gereja Kristen Orthodox dunia membuat dingin menjadi hangat, dan lelah menjadi berenergi.

Ada kekuatan batin yang sangat terasa ketika kaki melangkah ke dalam.

Begitu melewati lorong mendekati pintu masuk, saya masih melihat ada sisa gambar indah Mariam menimang Isa yang sangat kental pesan Kristus, yang belum atau tidak mau dihilangkan oleh pemerintah Turki.

Begitu masuk ke dalam, terlihat kemegahan dan keindahan yang luar biasa.

Bangunan itu seolah mengambarkan kehebatan kekuasaan manusia yang diabadikan kepada penciptanya.

Pertama menjadi Gereja Kristen Orthodox pada tahun 573 Masehi, dan setelah 916 tahun kemudian gereja itu dirobah menjadi masjid.

Pada tahun 1934, Kemal Attaturk merobah lagi Hagia Sophia menjadi museum sejarah dan peradaban Turki.

Status itu berobah lagi setelah 86 tahun, museum itu dirobah lagi oleh Recep Tayyip Erdoğan menjadi masjid kembali.

Cerita tentang Hagia Sophia adalah ibarat sebuah novel Trilologi yang tak pernah selesai untuk ditulis.

Saya akan menulis khusus untuk topik pada serial berikutnya.

Yang pasti malam itu kami mendapatkan “sesuatu” dari Ottoman, Atatturk, dan Erdogan.

Selebihnya kekecewaan awal di Besiktas agak terobati ketika melihat ada ummat Islam baik dari pedesaan maupun perkotaan yang berbaur di kedua masjid itu. Kami terlalu capek.

Segera setelah kami ke luar azan Isya terdengar lagi, terlihat rombongan kelas menengah Istanbul mulai berdatangan ke Hagia Sophia.

Penampilan mereka sangat menyenangkan untuk dilihat, bersih, modis, dan sangat bersahaja.
Mereka berjalan cepat, sendiri, atau berpasangan.

Ada juga para anak muda yang terlihat, tidak sangat ramai tak apalah, tapi mereka juga tampaknya sangat terpelajar.

Kami pulang dengan taxi ke apartemen, malam semakin larut.

Kami kembali ke Besiktas, dan suasana dan aroma Eropa terasa semakin kental di sana.

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.



Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2022/04/16/catatan-perjalanan-ramadhan-istanbul-rue-de-la-roquette-haarlemmerstraat-dan-st-marsk-square.

1 komentar untuk “Catatan Perjalanan Ramadhan – Istanbul, Rue de la Roquette, Haarlemmerstraat, dan St. Mar’sk Square”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *