Anwar Ibrahim: Pangeran Prinsip dan Sabar

Mata sembam hitam itu menjadi pembicaraan dan perhatian besar tokoh dan berbagai lembaga dunia.

Amnesty internasional menuduh pemerintah Mahathir telah berlaku tiran. Wapres AS bahkan terang-terangan menyebut dukungannya untuk Anwar.

Di Indonesia mantan presiden Habibie memberikan semangat kepada Anwar, dan ketika Anwar bebas pada 2004 mereka menjadi sohib kental.

Hampir semua pemimpin ASEAN dan cukup banyak pemimpin dunia yang diam-diam ataupun terbuka yang menunjukkan simpatinya kepada Anwar Ibrahim.

Akhirnya tak tahan dengan kritikan dan celaan internasional, Rahim Noor diperiksa dan ia mengakui menghajar Anwar di kantor pusat Polisi, sekaligus minta maaf kepada Anwar, keluarganya, dan rakyat Malaysia atas perbuatannya.

Beberapa orang polisi yang ikut menghajar mendatangi Anwar di penjara menangis tersedu-sedu dihadapannya sekaligus minta maaf.

Mereka mengakui penganiyaan itu dilakukan atas perintah atasannya. Anwar tersenyum dan memaafkan mereka. Atas kesalahannya Rahim dipenjarakan dua bulan.

Fabrikasi perkara korupsi yang dituduhkan kepada Anwar memang bukan perkara sulit untuk diatur oleh kekuasaan.

Apa yang mustahil, namun terjadi di pengadilan Malaysia pada masa itu adalah tuduhan terhadap sodomi yang direncanakan untuk membuat tahun penjara Anwar menjadi panjang

Menurut sebuah cerita yang layak dipercaya, Anwar dimasukkan kedalam ruangan penjara dengan telanjang, tanpa sehelai kain.

Malam itu ia tidur diatas lantai, yang membuat sebagian kecil bulu tubuhnya terjatuh. Ia kemudian dipindahkan dan diberi izin untuk kembali memakail baju keesokan harinya.

Bulu badan Anwar kemudian dikumpulkan secara sangat hati-hati, yang kemudian dilekatkan pada kasur, tempat dimana supir isterinya Azizan Abubakar menyebutkan ia dipaksa sodomi oleh Anwar.

Dipengadilan, bulu itu dikonversi oleh polisi menjadi DNA semen-cairan pemula sexual Anwar – yang berceceran di kasur Itulah yang diajukan oleh jaksa dan menjadi bukti kuat tuduhan kepadanya.

Akurasi DNAnya tak tanggung-tanggung, seratus persen.

Tidak cukup dengan supir isterinya, Anwar juga dituduh melakukan homoseksual dengan saudara angkatnya, Sukma Derwamawan Sasmita, dengan “modus operandi” bulu Anwar yang juga sama.

Anwar akhirnya harus menerima konsekwensi dari sebuah idealisme, integritas, dan kemauan yang diperjuangkannya.

Ia divonis pada 1999 enam tahun penjara untuk kasus korupsi. Rezim menganggap kurang, ia ditindas lagi dengan vonis sembilan tahun penjara untuk kasus sodomi pada tahun 2000.

Rezim yang berkuasa tahu benar “menggoreng” emosi publik Melayu muslim dengan tuduhan sodomi-liwath, sesuatu yang yang sangat dikutuk dalam Islam.

Namun, jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga independen menemukan mayoritas publik tak percaya dengan tuduhan itu.

Ia lepas dari penjara pada 2004, setelah Mahkamah Agung menolak keputusan pengadilan dibawahnya.

Tak lama Anwar beristirahat, terlibat dalam kegiatan akademik dan pidato ilmiah di berbagai tempat di dunia.

Sembilan tahun kemudian ia kembali menjadi politisi dengan menjadi pemimpin oposisi.

Nasib buruk kembali menimpanya, tuduhan sodomi kembali dilancarkan dengan pengakuan pembantunya, Mohammad Saiful Bukhari Azlan.

Ia mengaku dipaksa sodomi oleh Anwar pada tahun 2008 di sebuah kondomnium di Bukit Damansara. Tuduhan itu menjadi lawak nasional dan internasional.

Bagaimana mungkin seorang tua yang berumur 61 tahun mampu memaksa anak muda yang berumur 24 tahun untuk sodomi.

Untuk keganjilan itu kemudian, atas “anjuran” orang-orang tertentu Azlan “merevisi” pengakuannya dari dipaksa menjadi suka sama suka.

Walaupun pengakuan itu berobah, ruangan hukuman untuk Anwar tidak dibiarkan tertutup. Vonis 9 tahun oleh pengadilan rendah kemudian dibatalkan oleh pengadilan tinggi Malaysia.

Tetapi Anwar belum bisa lega. Pengajuan kasasi Jaksa membuat Anwar diganjar hukuman lima tahun penjara pada tahun 2014. Anwar masuk penjara lagi, karena fabrikasi hukuman yang dibuat rezim yang berkuasa.

Banyak pihak meragukan ia akan kembali ke politik, apalagi umurnya yang akan mendekati tujupuluhan pada saat itu. Anwar untuk sejenak dilupakan.

Mahathir yang sudah lengser pada tahun-tahun sesudah Anwar dipenjara melihat kepemimpinan Najib Razak sudah kelewat batas.

Apa yang aneh kali ini adalah “korupsi secukupnya” pada era Mahathir, diganti dengan “mega korupsi” pada era Najib.

Nama Najib menjadi sangat viral ketika korupsinya 1 milyar dolar-dikenal dengan 1MDB terdedah kepada publik. Berbagai kritik Mahathir terhadap Najib dianggap sepi, bahkan dilecehkan oleh Najib.

Tak ada pilihan lain, dihari tuanya yang tak lagi dikelilingi oleh anak asuhnya, ia hanya berharap Anwarlah yang bisa diajak untuk melawan Najib si pendurhaka itu.

Mahathir menjanjikan kepada Anwar akan meminta Yang di pertuan Agung memberikan amnesti kepada Anwar jika koalisi mereka menang, dan dua tahun setelah ia jadi Perdana Menteri, ia akan mempromosikan Anwar untuk penggantinya.

Koalisi mereka menang, Mahathir menjadi Perdana Menteri, isteri Anwar Wan Azizah menjadi Wakil Perdana Menteri. Anwar mendapat amnesti raja, Najib diadili dan masuk penjara.

Koalisi itu berkuasa, dan Anwar kali ini “ditipu” lagi oleh Mahathir. Jabatan Perdana Menteri yang dijanjikan tidak diberikan kepada Anwar.

Akhirnya karena mendapat dukungan parlemen yang lemah, Mahathir mindur dan digantikan oleh anak didiknya yang lain yang juga membelot, Muhyidin Yasin.

Kepemimpinan Muhyidin gagal, terutama dalam mengatasi Covid-19 dan kebijakan ekonomi yang centang perenang.

Jabatan Perdana Menteri kemudian jatuh ketangan Barisan Nasional dengan pentolan UMNO, Ismail Sabri. Kali ini pemerintah gagal lagi.

Malaysia tak punya pilihan lain, Pemilu harus segera diadakan. Dan Pemilu pun digelar beberapa hari yang lalu. Hasilnya adalah sejarah.

Pakatan Harapan Anwar menang, tetapi bukan mayoritas. Aliansi Melayu “keras” Muhyidin di urutan kedua, sementara Partai Pejuangnya Mahathir dihukum oleh publik Malaysia, tak mendapat kursi satupun.

Tak tanggung, Mahathir, politisi tak terkalahkan selama puluhan tahun dalam sejarah Malaysia, kini mengalami kekalahan di Pulau Pinang.

Di tengah kemelut yang tak menentu, ditambah dengan kepongahan Mahyidin yang tak mau berbagi, Anwar menerima tawaran raja untuk menjadi Perdana Menteri dengan mengikutkan partai-partai lain dalam sebuah koalisi besar untuk menyelamatkn Malaysia.

Anwar menerima tawaran itu, dan pasar langsung menyambut baik, ringgit Malaysia mulai terdongkrak. Pasar mungkin ingat kemapuan multi talenta Anwar Ibrahim yang berpengalaman dengan keragaman kementrian.

Bahkan ketika ia menjadi Menteri Keuangan Malaysia, sebuah majalah keuangan Eropah, -Euromonitor, memberikan gelar kepada Anwar Menteri Keuangan terbaik pada berturut-turut pada tahun 1996, dan 1997.

Atas semua pendakian yang dijalani Anwar tidak banyak kata yang diperlukan.

Ia memegang teguh idealisme dan prinsip yang diyakinya.Ia sabar menghadapi berbagai tantangan besar, bahkan hinaan yang tiada tara.

Kita tidak tahu apakah ia dendam dengan Mahathir, walaupun sama sekali belum ada bukti yang kuat untuk bersangka kepadanya.

Sepertinya, ia tak akan berlama-lama dengan masa lalunya yang penuh onak dan duri, dan bahkan hampir dilupakan oleh sejarah.

Anwar mungkin saja memaafkan terhadap penzaliman dan kezaliman yang telah berlaku untuk dirinya, walaupun mungkin tak akan melupakannya.

Ia tahu ada perkara besar yang mesti ia tuntaskan, membawa Malaysia keluar dari kemelut panjang politik, ekonomi, dan korupsi.

Ia pasti akan bekerja keras membuktikan bahwa ia memang “nakhoda” yang tepat untuk membawa Malaysia keluar dengan selamat dari badai besar itu. Ia harus meyakinkan sekutu koalisinya yang baru, bahkan UMNO sekalipun.

Lebih dari itu ia akan membuktikan kepada rakyat Malaysia, bahwa ia tidak hanya mampu, tetapi juga dapat dipercaya.